Kemenangan Bagi Seorang Murid

(Oleh: Ramdani Saputra.,M.MPd (Guru SMPN 5 Tambun Utara)

Tulisan ini terbangun dari Inspirasi Bapak Kepala Seksi Pendidikan Kabupaten Bekasi Bapak H. Edi.,S,Pd.MM, tentang “Berikan Kemenangan Kepada Peserta Didik menjelang libur Pra PAS 1 TP.2022/2023”.

Ruang Kemenangan bagi setiap peserta didik, akan terlihat bias dalam pemaknaanya, sesuai dengan ranah jiwa masing-masing. Karena makna menang, harus sealur dengan harapan hati, sesuai dengan yang telah dilakukan, bentuknya berupa hasil yang menumbuhkan semangat, rasa gembira, dan termotivasi untuk mempertahankan atau meningkatkan hasil lebih baik lagi. Misal, Seorang peserta didik yang nilainya melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), akan merasa senang, dan menumbuhkan sikap menang dalam jiwanya, karena sudah mampu melewati fase kritis KKM. Namun makna kemenangan yang terbangun disini lebih luas jangkauannya yakni meliputi seluruh ruang jiwanya (Inplisit). Era 80 an, bagi seorang murid, akan sangat senang ketika menyongsong liburan sekolah Pasca Ulangan Umum di sekolahnya, karena ada masa libur panjang, yang memerdekaan jiwa nya untuk dapat memuaskan hari harinya dengan berlibur. Makna kemenangan semodel ini, merasa terbebas dari beban belajar normatif disekolah, dan mengisi waktunya dengan bermain atau berlibur dengan keluarganya.

Pendidikan Karakteristik yang ditanamkan disekolah, merupakan pengeja wantahan, karakteristik bagi setiap peserta didik yang sudah dimulai dari tiap lingkunganya (terutama keluarga). Sekolah berkedudukan sebagai pengarah, yang mengukur perkembangan karakteristik bagi setiap peserta dididk dari waktu ke waktu. Karakteristik yang dominan menjadi tolak ukur disekolah, adalah karakter positif (walaupun karakteristik dalam jiwa seseorang bersudut dua antara positif versus negatif), karena bagi setiap satuan pendidikan harus mampu menghasilkan peserta didik yang berkarakter positif. Dari sini, sudah tampak jelas, bahwa pendidikan walaupun secara formal, hakikatnya didominasi oleh sebuah institusi, namun pada geraknya, berjalan harus saling mndukung secara padu (Keluarga,Lingkungan bermain, Masyarakat dan Sekolah).

Ruang jiwa bagi setiap peserta didik,terbangun dari interaksi dengan lingkunganya secara masif. Dari sini akan tampak karakter pada setiap peserta didik akan sangat beragam warnanya. Jiwa adalah rasa, untuk mengarahkan dan membentuknya harus dengan rasa juga. Yakni rasa senang, rasa ingin, rasa yakin, rasa sealur (Circle) dan sejumlah rasa lain sesuai dengan suasana jiwanya. Para pendidik,guru, dan juga pengambil kebijakan publik pendidikan harus memahami hal ini, agar tidak bias sasaran. Sekarang ini hampir tidak berpungsi makna Guru di gugu dan ditiru, karena guru bagi mereka, banyak diperoleh dari sosok lain, seperti Medsos, Film, Youtube,Tiktok dan lainya. Pengaruh tersebut lebih kuat membentuk sifat, watak, dan karakteristiknya, karena tidak ter-elakan dan terfilterisasi.

Ketika seorang anak, bersama ayahnya, mengambil buku raport pendidikan kepada wali kelasnya, didapatinya beberapa mata pelajaran nilianya di bawah Kriteria Ketuntasan Miniman (KKM), yakni Mata pelajaran Matematika, IPA , Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Sianak perasaanya tidak bebas, karena merasa takut dan malu pada ayahnya. Expresi kecewa bercampur marah tertahan tampak pada raut wajah ayah anak itu. Anak itu tampak semakin takut, perasaannya tidak menentu. Tiba tiba suara parau menyapa telingga anak itu:

“Makanya jangan terlau banyak bermain dengan Handphone !!”

“Atur waktu mu, sebelum waktu akan menghabisi masamu!!”

“Manfaatkan waktu mudamu sebelum tua mengikis umurmu!!”

“Manfaatkan juga waktu sehatmu sebelum datang sakitmu!!” Jadilah Manusia yang berguna terhadap sesamamu Nak!!”

“ Iyaa Ayah ….”, jawab anak itu setengah merunduk takut kepada ayahnya yang di seganinya itu.

Orang tua anak itu, kemudian menoleh ke arah guru yang sekaligus wali kelas anaknya, Sambil berkata:

“Maafkan anak saya bu guru…. Jika prestasinya mengecewakan dan kepribadiannya kurang baik”.

Guru wali kelas itupun terlihat tersenyum dengan manis, kemudian berkata:

“ Bapaak…. tidak usah terlalu cemas dengan perkembangan putra bapak, “

“Iya Buu Guru”

“Setiap anak, memiliki talentanya masing-masing, ia akan bertumbuih sesuai dengan fitrahnya” Kemudian guru wali kelas anak itu melanjutkan obrolanya

“Nilai dan ranking kelas tidak terlalu memegang peranan penting untuk hidupnya, karena hidup akan diimbangi dengan Karakter anak itu sendiri pada akhirnya”

“Tugas kita hari ini sebagai orang tua dan guru, hanya memberikan fasilitasn dan ruang kemenangan bagi jiwanya, agar tumbuh percaya dirinya, dan berkembang karakter sesungguhnya dengan baik”

“pada akhirnya dia akan menjadi pemenang bagi kehidupannya”

“Ingat Bapaak,,,, Memarahi anak hanya akan membuat jiwanya introper, yang pada akhirnya akan menggiringnya secara perlahan menjadi orang yang tertekan dan tidak merasa menang…. dalam setiap keputusanya”

“sabarlaah …. dan terus berusaha serta berdo’a agar anak anak kita menjadi orang orang yang Hebat dan menjadi para pemenang dalam hidupnya”

Orang tua itupun tampak tercenung,dan jauh dalam benak hatinya, merasa bersalah pada abnaknya karena telah bersikap kasar dengan ucapanya tadi.

“terimakasih Bu Guru …. anda telah membuka mata hati saya, tentang pendidikan bagi anak”

“sama sama Bapaak”

Orang tua itupun meminta maaf pada putranya yang sedari tadi ketakutan, kedua tangannya yang kekar memeluk erat kedua bahu anaknya, sambil berkali-kali menciumi ubun ubun kepala anaknya dengan penuh kasih sayang, layak kemesraan seirang anak dan ayah dalam sebuah keluarga.

Hati anak itupun pecah, airmata keluar dari kedua kelopak matanya, sambil terdengar isak tangis tersedu-sedu merambat, lalu terdengar sayup sayup haru suara anak itu berkata:

“Maafkan Joko ayah ….. Joko berjanji akan menjadi anak yang berbakti”

“Iyaa Nak” Terdengar suara jawaban balasan ayahnya parau dalam isak yang sedu sedan.

Fenomena diatas adalah sekilas gambaran ruang kemenangan yang diberikan oleh seorang guru dan ayah kepada anaknya. Pendidikan adalah sebuah pendekatan jiwa yang lembut, bersifat abstark, dan objektivitasnya adalah Jiwa (rasa), Tumbuhkan rasa mau terlebih dahulu, berikan kepercayaan dan tanamkan motivasi serta tiori-tiori belajar yang humanis, agar para peserta didik mau bergerak tanpa merasa dipaksa oleh sesutu, untuk pada akhirnya akan menemukan jatidirinya secara utuh (Berkarakter). Jadi Kemenangan adalah sebuah ruang yang terbangun secara alamiah, yang didorong oleh rasa yang tersentuh oleh sesuatu Dogma.

Jika Kemenangan dimaksud berjalan dengan baik,maka dapat dipastikan pendidikan akan menjadi ruang terhormat sebagai wadah menstabilkan karakter itu sendiri.

Terinspirasi dari ucapan Bijak H. Edi S.Pd.,MM Kasi Pendidikan SMP Kab. Bekasi “ Berikan Kemenangan Pada Peserta Didik”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*