Fajar Batik Khas Bekasi

Cikarang Barat (Bintang Save) – Kabupaten Bekasi punya batik khas. Pola dan motifnya dipengaruhi oleh khazanah keunggulan serta keunikan daerah, semisal Saung Ranggon, kecapi, gabus pucung hingga golok yang berbalut dominasi warna-warna cerah. Pasar menyambut, fajar batik khas Kabupaten Bekasi telah terbit dari tangan ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok pengrajin bernama Telaga Batik.

Paduan suara dari Dinas Budaya, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Bekasi tampil kompak pada acara pelantikan Pimpinan DPRD Kabupaten Bekasi Periode 2019-2024, Kamis (10/10) lalu.

Bukan hanya soal olah suara, kekompakan mereka nampak juga sampai urusan pakaian yang melekat di badan. Belakangan, baru kami tahu kalau setelan batik berwarna hitam kuning itu dipesan dari kelompok pengrajin batik asal Cikarang Barat.

Kelompok pengrajin tersebut menamai diri mereka ‘Telaga Batik’. Kata “Telaga” diambil dari nama tempat para pengrajinnya tinggal dan memproduksi batik, yakni di Perum Telaga Murni. Lengkapnya di Blok A1, Jl. Nila 2, Kecamatan Cikarang Barat.

Runi, founder sekaligus ketua kelompok Telaga Batik mengungkapkan, bahwa untuk tampil pada acara pelantikan, Disbudpora memesan sebanyak 73 setel baju lengkap dengan kain batik motif kecapi, Saung Ranggon dan mangrove. Yang menarik, Disbudpora rupanya bukan pemesan pertama dari kalangan pemerintahan.

Kata Runi, cukup banyak dinas ataupun pejabat pemerintah yang memesan baju batik kepada kelompoknya, baik untuk acara-acara resmi kedinasan maupun sebagai cinderamata.

“Pak Eka (Bupati Bekasi) juga pernah beli kain batik kami, lho. Yang membanggakan, beliau sempat belajar membatik di stand kami saat Pekan Raya Bekasi di Sukatani (2018). Bagi kami, semua itu bentuk dukungan luar biasa dari Pemerintah Kabupaten Bekasi,” kata wanita yang karib disapa Runi ini, Sabtu (12/10) siang.

Bagi Runi, pameran merupakan ajang promosi yang efektif menggaet pembeli dari berbagai segmentasi pasar, termasuk para pejabat.

Bahkan, dikisahkannya, pada suatu momen pameran di Bandung, batik dari Telaga Batik ini mampu mencuri perhatian Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

“Iya, mas. Malahan, Pak Gubernur yang pilih langsung batiknya,” ucap Camela menimpali. “Kata Pak Gub itu: ‘Saya mau yang ini saja (sambil mengambil kain batik bermotif Ondel-Ondel)’,” sahut Riyanti seraya menirukan ucapan Ridwan Kamil.

Dijelaskan Runi, instansi pemerintah memang menjadi pangsa pasar terbesar Telaga Batik selama ini dengan persentase penjualan menyentuh angka 70%. Namun begitu, penjualan ke masyarakat secara luas mulai meningkat mencapai 20%-an.

Adapun penjualan yang dihasilkan melalui event-event pameran sebesar 10%. “Untuk pemasaran biasanya dilakukan lewat jejaring media sosial, marketplace, dan rekomendasi orang per orang,” jelasnya.

Selalu Kompak

Baik Camela maupun Riyanti merupakan anggota kelompok pengrajin Telaga Batik. Selain Camela, Riyanti dan Runi, Telaga Batik juga beranggotakan Rahayu, Erni, Restiyani, Lingga Dewi, Tusiyah, Sri Handayani, Endang Suryani, Syahruni, Sutarmi dan Omen.

Kesemua anggota punya tugas dan peran penting masing-masing. Ada yang mengemban tugas menjadi designer, di bagian pewarna, canting, rorot, dan cap. Tugas dan peran itu mereka bagi dan jalankan dengan baik, pun di sela-sela usaha pribadi tanpa melupakan kewajiban utama sebagai seorang ibu rumah tangga.

Tak jarang pula diskusi ‘panas’ terjadi di antara mereka. “Saling mengerti serta memahami adalah kunci kami menjaga kekompakan dan keharmonisan. Justru pas sudah kumpul, kadang kami lupa kalau habis nyuci pakaian seabrek di rumah. Capek itu hilang,” ujar Runi sambil terkekeh.

Bicara Telaga Batik, tentunya tidak bisa lepas dari peran sentral Runi.

Boleh dibilang, Runi bukan sekadar pelopor lahirnya Telaga Batik. Lebih dari itu, ia merupakan sosok yang mengikat para ibu-ibu ini dalam satu ritme. “Meski begitu, semua anggota adalah pemilik. Punya hak yang sama,” tegasnya.

Berawal dari Program Pelatihan

Usia Telaga Batik sejatinya masihlah teramat muda. Kelompok ini secara resmi berdiri baru pada bulan Oktober 2017, tepat setelah para anggotanya mengikuti program pelatihan membatik dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) Kabupaten Bekasi yang digelar di Kota Bandung.

Pada mulanya, anggota kelompok Telaga Batik yang mengikuti pelatihan tersebut berjumlah 25 orang –angka itu kemudian menyusut menjadi tinggal sekitar 13 orang saja.

Sepulangnya dari pelatihan, mereka dibekali kain sebanyak 250 meter, lilin 20 kilogram, pewarna 15 kilogram, peralatan canting hingga ember. “Dari 250 meter bahan, 100 meternya habis untuk percobaan saja,” ungkap Runi.

Di sisi lain, kendala mulai muncul menguji mental dan kesungguhan mereka. Pertama, adalah kendala dari sisi permodalan.

Kedua, yaitu persoalan dalam hal pewarnaan atau ketepatan menentukan rumusan warna. Beruntung, seiring waktu kedua masalah itu terpecahkan. “Pertama, untuk masalah modal kita dapat dana hibah dari Kemenkop. Kedua, kami dibantu Dinas KUKM untuk kembali mengikuti pelatihan,” imbuhnya.

Dia mengakui, bahwa perkembangan Telaga Batik begitu pesat meski baru tiga tahun berjalan. Grafik perkembangannya terus mengalami peningkatan, baik dari segi kemampuan membatik maupun penjualan. Dengan kata lain, nama Telaga Batik semakin moncer di pasaran.

“Peningkatannya bisa sampai 300% kalau kita lihat dari titik awal. Penjualannya sejak pertama berdiri bahkan sudah lebih dari 1.000 pcs,” ucap Runi.

Di sisi lain, perkembangan yang signifikan itu tak lantas membuat mereka berpuas diri. Komitemen untuk terus mengangkat batik khas Kabupaten Bekasi membuat mereka bercita-cita lebih tinggi, yakni mengembangkan kampung batik.

“Kami sedang mengarah ke sana (kampung batik). Makanya nanti akan ada Rin Batik, Camela Batik, Tusiyah Batik, Adiba Batik, dan Syahruni Batik. Kami arahkan anggota untuk mendirikan usaha batik masing-masing. Pondasinya sedang mulai dibangun,” papar Runi.

Selain mendirikan kampung batik, impian lain adalah keinginan mempunyai galeri sendiri sebagai pusat oleh-oleh khas.

“Kami ingin batik Kabupaten Bekasi ini sesuai dengan jargon Telaga Batik: bisa mendunia. Mendunia batiknya, mendunia pengrajinnya,” tuturnya penuh harap. Peran Dinas KUKM “Bisa dikatakan kami lahir dari Dinas KUKM,” kata Runi.

Pernyataannya itu merujuk pada berbagai program fasilitasi dinas yang mereka peroleh. “Dinas bukan hanya memberikan fasilitasi berupa peralatan dan akses permodalan, tetapi juga masukan-masukan yang pada akhirnya memotivasi kami untuk terus memperbaiki kualitas,” sebutnya. Sehingga, Telaga Batik bisa berada pada posisinya saat ini.

“Order pertama kami itu dari Dinas KUKM. Mereka tetap beli walaupun hasilnya kurang maksimal. Saya merasa dinas sudah luar biasa memberikan dukungan,” ungkap dia.

Ia berharap Dinas KUKM tak bosan-bosannya memberi dukungan. Berkaitan dengan peran dinas ini, Runi berharap pula bisa terus dikuatkan karena kedepannya, ia berencana menjadikan Telaga Batik sebagai sebuah koperasi.

“Kami upayakan (menjadi koperasi) agar sinerginya pas antara (bidang) koperasi dan UKM. Telaga Batik nantinya bisa menjadi percontohan sinergi kedua bidang ini,” pungkasnya. (Ccp)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*