Menakar kans Pak Tri di Pilkada Kota Bekasi

(Bintang Save) – Kabar yang tidak mengejutkan datang dari Kota Bekasi. Pasalnya, Walikota Rahmat Efendi alias bang Pepen diduga melakukan penyalahgunaan wewenang bersama anak buahnya, dan berhasil diamankan oleh komisi anti rasuah. Guna mengisi kekosongan kepala daerah, wakil walikota Bekasi Tri Adhianto, disahkan menjadi pelaksana tugas atau Plt. oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sampai dengan masa jabatan pasangan walikota dan wakil walikota tersebut berakhir pada 2023. Demikian sekilas info.

Secara hitung-hitungan politik, tersandungnya bang Pepen tidak akan berpengaruh besar pada bursa calon kepala daerah di Kota Bekasi.

Dampak yang paling mungkin terasa adalah daya tawar dari partai berlambang beringin yang menjadi tempat bernaung bang Pepen. Pasalnya, bang Pepen sudah dua periode menjabat dan secara konstitusional tidak diperkenankan lagi untuk mencalonkan diri. Di sisi lain, tersandungnya bang Pepen juga akan menjadi modal politik tambahan bagi Pak Tri untuk menyerap ilmu dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya sebagai walikota meskipun hanya tersisa 2 tahun saja. Hal ini akan memudahkan langkah pak Tri untuk melenggang menjadi walikota dengan membuang kata plt. di depannya.

Plt. Walikota Bekasi, Tri Adhianto.

Menurut penulis, bursa pemilihan walikota dan wakil walikota Kota Bekasi pada pilkada 2023 menjadi miliki PDIP. Panggung yang disiapkan oleh PDIP Kota Bekasi cukup megah untuk merebut kembali kursi Bekasi 1. Pertama, Pak Tri yang sebelumnya kader PAN berpindah haluan menjadi petugas partai PDIP. Tak tanggung-tanggung, Pak Tri langsung ditunjuk menjadi ketua DPC PDIP Kota Bekasi sejak 2019. Kondisi ini merupakan simbiosis mutualisme. Di satu sisi, PDIP membutuhkan figur yang berpengalaman yang masih bersih dan segar untuk dapat mewakili partainya menjadi partai penguasa di Kota Bekasi baik secara legislatif maupun eksekutif. Di sisi lain, bagi Pak Tri, kendaraan politik mewah yang bisa mengantarkannya menjadi Walikota Bekasi kemungkinan besar adalah PDIP karena berhasil menguasai 24% kursi di DPRD.

Kenapa  rekomendasi kepada Pak Tri masih dikatakan kemungkinan? Karena bisa jadi ada orang lain, petugas partai yang lebih dekat ke ring 1 DPP PDIP yang mau mencalonkan diri atau dicalonkan menjadi Bakal Calon Walikota. Hal itu pernah terjadi di pilkada Medan, dimana Bobby Nasution yang akhirnya maju menjadi calon kepala daerah kota Medan. Di pulau Jawa, masih di partai moncong putih, Gibran Rakabuming Raka, yang notabene “fresh graduate” di politik, mendapat golden ticket dari Ketum PDIP Ibu Mega untuk maju menjadi Walikota Solo. Di partai beringin di pulau Jawa, yaitu di Indaramayu, ada Daniel Mutaqien Syafiuddin yang notabene anak dari pada pak Yance, mendapat rekomendasi dari partainya untuk maju sebagai calon bupati Indramayu bersama Taufik Hidayat. Taufik Hidayat adalah wakil Bupati yang menjadi pelaksana tugas Bupati, mengisi kekosongan bupati Indramayu yang saat itu ditinggali oleh Supendi karena terjerat kasus hukum. Alih-alih biasanya Plt. Kepala daerah lah yang dicalonkan kembali pada pilkada berikutnya, Taufik Hidayat malah jadi Calon Wakil Bupati mendampingi Daniel Mutaqien.

Dalam politik, kejadian-kejadian seperti di pilkada Medan, Solo dan Indramayu terdengar menggelitik, tetapi itu sudah terjadi dan menjadi bagian dari proses demokrasi di Indonesia. Kembali lagi ke Bekasi, hemat penulis, maka kans pak Tri jika dilihat dari kacamata kebiasaan umum akan kemungkinannya sangat besar mendapat rekomendasi dari Ketum Ibu Mega untuk menjadi Calon Walikota Bekasi.

 

Amirul Muminin

Warga

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*