Mengingat Kembali Tragedi 1951, Saat Rumah Camat Cibarusah R. Mardjuki Diberondong Peluru oleh Perampok

Cibarusah (Bintang Save) – R. Aminah (86) melempar tatapan kosong. Perlahan, ia berusaha mengais serpihan demi serpihan memori di kepalanya; saat tragedi mencekam yang menimpa keluarganya puluhan tahun silam itu terjadi.

R. Aminah adalah isteri dari R. Mardjuki, Camat Cibarusah yang pertama, setelah Kawedanaan Cibarusah berubah menjadi Kecamatan Cibarusah dan masuk dalam wilayah Kabupaten Bekasi pada Agustus 1950.

Ia merupakan saksi hidup dari peristiwa perampokan terhadap rumah dinas Camat Cibarusah yang berada di daerah Pondok Kopi pada tahun 1951.

Property by Wawan Joag YouTube Channel.

“Saya ada di ruang tamu, sedangkan Bapak (R. Mardjuki) tidur di kamar karena kelelahan,” kisah R. Aminah sambil menggenggam keras tongkat di tangannya, dikutip Bintang Save dari channel YouTube Wawan Joag (klik untuk menonton video).

Disebut R. Aminah, suaminya itu baru saja pulang dari rumah di Cibancong. “Siangnya itu Bapak habis ambil uang pembelian padi pemerintah di Bekasi. Dulu uang padi dipegang oleh Camat. Nah, pas maghrib Bapak bilang: ‘kita taruh saja (uang) di rumah di Cibancong, saya khawatir (kalau) di rumah (rumah dinas di Pondok Kopi)’.”

Tidak ada syak wasangka sama sekali, pintu rumahnya tetiba ditendang dari luar beberapa kali oleh orang tak dikenal. Panik, ia pun mencoba mencari perlindungan di dalam rumah. Tetapi kejadian selanjutnya lebih mengerikan: rumah R. Aminah diberondong peluru.

Di tengah kekalutan, R. Aminah bergegas menuju pintu belakang rumah. Ia berhasil keluar, berlari sejauh mungkin dari rumahnya. “Saya baru ketemu Bapak sekitar jam tujuh pagi,” katanya.

R. Mardjuki dan keluarga memang berhasil selamat dari kejadian tersebut, tetapi seluruh harta bendanya ludes terbakar bersama rumah dinas yang juga difungsikan sebagai kantor Camat itu. R. Mardjuki sendiri diketahui menyelamatkan diri lewat persawahan di Kp. Kebon Kopi dan sungai Cilemahabang.

Pihak keluarga meyakini penyerangan ke rumah mereka dilakukan oleh pasukan Bambu Runcing dan Barisan Rakyat. Konon kabarnya, Bambu Runcing dan Barisan Rakyat berisi para mantan pejuang yang tidak masuk dalam daftar pelatihan militer ke Yogyakarta. Salah satu faktornya adalah soal pendidikan dan latarbelakang kelompok tersebut yang memang tidak memenuhi syarat.

Di sisi lain, seperti dituturkan Agah Handoko, salah seorang anak R. Mardjuki, kejadian yang menimpa keluarganya cukup mengherankan. Pasalnya, pasukan BR seakan dengan leluasanya melakukan penyerangan. Padahal, lokasi rumah dinas dekat dengan markas Bataliyon 3 Mei.

“Tapi mereka (Bataliyon 3 Mei) seolah membiarkan penyerangan itu, tidak ada satupun yang datang ke lokasi saat kejadian. Bahkan, pembakaran demi pembakaran terjadi di sepanjang jalan kota,” ungkap Agah yang juga merupakan Ketua Komunitas Historika Bekasi.

Akibat peristiwa itu, sebagaimana ditulis Agah dalam blog pribadinya, R. Mardjuki akhirnya memutuskan untuk keluar dari Cibarusah dan mengundurkan diri sebagai Camat Cibarusah (2012, agahcenter.blogspot.com).

“Beliau menghadap Bupati Bekasi Suhandan Umar dan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Kemudian selama beberapa saat jabatan Camat Cibarusah mengalami kekosongan sebelum akhirnya Mardjuki Urmain ditunjuk untuk menjadi Camat menggantikan R. Mardjuki,” demikian tulis Agah, dan dikutip Bintang Save pada Kamis, 2 Desember 2021.

Rumah R. Mardjuki Tak Kunjung Peroleh SK Bupati Sebagai Cagar Budaya

Pasca tragedi perampokan itu, R. Mardjuki dipindahtugaskan ke Tasikmalaya dengan menjabat posisi Camat Bantarkalong. Sebelum akhirnya pensiun, R. Mardjuki tercatat sebagai Camat Cariu. Ia baru kembali ke Cibarusah pada tahun 1980.

Rumah R. Mardjuki saat ini didiami oleh sang istri, R. Aminah dan Agah sendiri. Namun Agah menyoroti lemahnya perhatian pemerintah, baik Pemkab maupun di level kecamatan dan desa. Padahal, rumah bergaya Betawi classic itu pernah akan dimasukkan ke dalam daftar cagar budaya.

“Tapi sampai sekarang SK dari Bupati Bekasi belum ada,” terangnya.

Sebagai pemerhati sejarah Bekasi, dirinya khawatir, jika suatu cagar budaya sampai hilang, maka yang dirugikan bukan pemiliknya saja. “Tapi juga masyarakat Bekasi akan kehilangan jejak sejarahnya,” ujarnya. (Ccp)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*