Nyumarno Dorong UPTD Balai Benih Lakukan Inovasi Pembibitan Ikan Hias

Cikarang Pusat (Bintang Save) – Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bekasi meminta kepada Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Balai Benih Ikan di Kabupaten Bekasi melalui Dinas Perikanan dan Kelautan untuk melakukan inovasi pembibitan ikan hias.

Nyumarno selaku wakil Komisi II DPRD, mengatakan bahwa, sejauh ini UPTD Balai Benih baru mengembangkan ikan jenis konsumtif, seperti ikan nila, lele, patin dan gurame. Menurutnya, ikan hias sekarang ini justru banyak di gemari. Contohnya saja ikan cupang, koi dan jenis ikan hias lainnya.

“Bahkan di antara ikan-ikan itu ada yang dibanderol dengan harga cukup fantastis,” katanya, Kamis (9/9).

Dijelaskan Nyumarno, apabila UPTD Balai Benih bisa memberikan bantuan kepada kelompok masyarakat pembudidaya hanya dengan satu induk ikan hias saja — dengan jenis satu betina dan dua pejantan — maka bisa melahirkan ikan seperti jenis koi. Harga anakannya bisa mencapai Rp150 ribu.

“Dengan begitu, rakyat bisa sedikit terbantu. Apalagi kalau yang sudah memiliki empang itu tinggal diberikan bantuan satu paket bibit, satu paket kolam dengan menggunakan terepal dan filter air. Satu paket saja di berikan kemudian diberikan pelatihan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, perkiraan anggaran sebesar Rp30 juta yang diberikan untuk kelompok beranggotakan sekitar 20 orang. “Misal, bibit ikan cupang dengan modal 10 juta Itu sudah komplit,” simpulnya.

Artinya, lanjut Nyumarno, jika dalam satu tahun pemerintah bisa membina 100 kelompok dan didampingi oleh Dinas Perikanan sampai dengan dibantu penjualannya, dirinya yakin cara itu bisa maju dan berkembang.

“Karena ikan hias seperti cupang atau koi itu nilai jualnya beda dengan ikan konsumtif. Ikan konsumtif itu basisnya kilogram. Kalau ikan hias, karena penghobinya sedang banyak hitungannya per ekor,” beber Nyumarno.

Salah satu contoh, tambahnya, seperti ikan koi dengan ukuran 30 cm harganya Rp 300 ribu per ekor. Apabila sampai Rp150 ribu untuk yang anakan — bila dijual — paling murah misalkan dengan ukuran 15 cm dengan harga Rp10 ribu, itu sudah bisa mengantongi Rp150 juta dalam satu kali panenan.

“Artinya, dalam 6 atau 4 bulan itu peredaran uang di masyarakat bisa sekitar Rp150 juta,” ujarnya.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan apabila badan hukumnya ada, misalkan berbentuk koperasi, atau kelompok pembudidaya ikan yang di-SK-kan oleh Bupati dipermudah izin UMKM-nya. Kemudian, didampingi hingga ke Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendapatkan rekomendasi karantina hewan. Optimisnya, tidak menutup kemungkinan masyarakat pembudidaya juga bisa ekspor.

“Dengan selogan ‘Berani’, saya berharap inovasi ikan hias ini bisa menjadi alternatif untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dimasa pandemi Covid-19 ini,” pungkasnya. (Adv)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*