Nasabah Kecewa: Gadai HP di Tambun Nebusnya Disuruh Ke Surabaya

Tambun Selatan (Bintang Save) – Cerita ini diutarakan salah seorang konsumen jaringan Pusat Gadai Indonesia cabang Tambun Selatan yang berlokasi di Jalan Raya Sultan Hasanudin, Desa Mekarsari, Kec. Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Ia mengaku kecewa lantaran handphone yang digadaikannya sudah tak lagi berada di kantor cabang tersebut.

“Begitu mau saya tebus, pihak pegadaian bilang kalau barangnya ada di kantor pusat mereka di Surabaya,” ucap dia.

Mulanya, sang konsumen meminjam uang sebesar Rp1 juta kepada pihak Pusat Gadai Indonesia di Tambun dengan menggadaikan hadnphone merk Samsung miliknya.

“Memang saya ada keterlambatan pembayaran, tetapi mestinya ada pemberitahuan terlebih dahulu (kepada nasabah) dong. Kalau sudah begini masa saya harus ke Surabaya?” tuturnya kesal.

Kepala Pusat Gadai Indonesia Cabang Tambun Selatan, M. Ervan Fathan.

Ia mengaku tak habis pikir dengan kebijakan pegadaian itu. Padahal, dirinya telah membayarkan semua kewajiban terhutang, mulai dari pokok pinjaman sampai bunganya sekaligus. “Intinya saya minta dibalikin tuh HP,” tandas dia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Gadai Indonesia Cabang Tambun Selatan, M. Ervan Fathan, menjelaskan bahwa apa yang diklaim oleh nasabah akan diproses dan diajukan Pimpinan Pusat.

“Prosesnya harus menunggu 15 hari kerja. Saya pun harus melaporkan keatasan dulu agar barang yang diklaim nasabah ini dapat disetujui Pimpinan Pusat. Prosedur di perusahaan kami begitu,” jelasnya.

Kemudian, diketahui dari Ervan, atas permintaan konsumen, pada hari Jumat (10/4), dibuatlah kesepakatan antara pihak Pusat Gadai – yang diwakili Ervan– dan juga konsumen untuk menyegerakan pengembalian barang gadaian dengan perjanjian masa pemulangan selama 3 hari.

“Saat ini kami sudah menerima sejumlah uang pembayaran dari konsumen sebesar Rp1,5 juta. Perjanjian yang dibuat pun ditandatangani dengan materai, serta disaksikan oleh saksi kedua belah pihak,” ungkap dia.

Mengomentari permasalahan ini, Sekjen 3 LSM Penjara Indonesia, Handika P.S., mengaku sangat menyayangkannya. Sebab kalau diruntut pada uraian paparan konsumen, kata dia, tingkat kesalahan ada di pihak Pusat Gadai. Pasalnya, ketika seorang konsumen ingin menebus barangnya, dan sudah tidak ada atau berpindah ke tempat lain, maka telah merugikan salah satu pihak.

“Ini (Pusat Gadai-red) lagi ngelucu apa emang gila?!” kata pria yang karib disapa Dika ini. “Udah duit boleh minjem, dipake ongkos ke Suarabaya lagi. HP kagak dapet, kena Corona di jalan tuh konsumen,” semburnya.

“Kuat dugaan adanya penggelapan barang yang timbulnya dapat merugikan si konsumen. Lalu bagaimanakah dengan hak konsumen? Apakah pihak Pusat Gadai tidak mengatahuinya atau memang pura-pura tidak tau?” tegasnya.

Dika mengaku akan mengawal terus kasus ini sampai tuntas. “Bila mana ada ketimpangan dan tidak adanya jalan penyeselesaian akan kami melaporkan kasus ini kepada pihak yang berwajib. Kami juga akan mempertanyakan semua perijinanan usaha Pusat Gadai di antaranya tentang SKU dan lainnya,” tutup Dika. (Dodo)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*