Kerugian SMAN I Cibitung Akibat Banjir Ditaksir Mencapai Rp2 Miliar

Cibitung (Bintang Save) – SMAN I Cibitung turut merasakan dampak bencana banjir yang melanda sebagian wilayah di Kabupaten Bekasi pada awal tahun 2020 lalu. Tidak tanggung-tanggung, kerugian yang diderita sekolah diperkirakan menembus angka Rp2 miliar. Hal itu diungkapkan oleh Kepala SMAN I Cibitung, Madasar, MP.d., saat ditemui Bintang Save, Senin (3/2) lalu.

Menurut Madasar, kerugian sebesar itu didapat dari kerusakan fasilitas-fasilitas dan aset di hampir semua ruang sekolah yang ludes diterjang banjir setinggi 1,2 meter. “Ruang perpustakaan, laboratorium hingga arsip terendam. Barang-barang yang harganya puluhan juta rupiah itu sekarang rusak, cuma menjadi barang yang tak bernilai saja,” ucapnya.

Mesin foto copy rusak terendam banjir.

Madasar mengaku, bahwa pihak sekolah sebenarnya sudah berupaya mengantisipasi banjir pada musim penghujan tahun ini. Namun, kata dia, usaha itu sia-sia. “Misalnya di ruang perpustakaan kami sudah melakukan peninggian rak buku,” ungkapnya. Tapi tetap saja, lanjut Madasar, buku-buku yang dibeli dengan dicicil dari anggaran dana BOS senilai Rp400 juta itu habis juga terendam banjir.

Kerusakan lain adalah pada ruang laboratorium dan sarana pendukung serta peralatan yang digunakan untuk kegiatan belajar siswa. Misalnya mikroskop digital yang bisa dihubungkan ke layar monitor dengan harga satu unitnya mencapai Rp32 juta, alat-alat marching band seperti mellophone, terompet, french horn/ mellophone, tenor horn, euphonium, baritone, contra bass atau tuba, divisi percussion battery, snare drum, quint tom, bass drum, hand cymbal.

Buku-buku di ruang perpustakaan.

“Belum lagi piala-piala, peralatan lain semisal sound system pengatur suara, tiga unit speaker pasif, keyboard Instrument, satu unit mesin foto copy, dan lima unit printer baru. Bahkan, 27 raport siswa, instalasi komputer untuk kegiatan ujian berbasis komputer (UNBK-red) dan alat server yang difungsikan untuk memantau 11 ruang juga rusak semua,” jelas Madasar.

“Mesin foto copy itu harganya sekitar Rp35 juta, dan selama ini sangat bermanfaat. Menghemat biaya untuk foto copy,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui, SMAN I Cibitung menjadi salah satu sekolah terdampak bencana banjir yang menerjang sekitar kawasan perumahan Villa Mutiara Cibitung, dengan ketinggian mencapai 1,5 meter. Madasar berkisah, pada saat kejadian, Tim Sar, Damkar, Polisi, dan TNI terlihat bersiaga mengawasi sekolah. “Baru pada hari kedua dan ketiga pihak SAR dan Damkar sudah mulai membersihkan ruang kelas,” jelas dia.

Kemudian, pada hari keempat Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat, Dewi Sartika, meninjau sekolah dengan didampingi Kabid Dikmen dan Kabid Bidang Sarana dan Prasarana. “Ibu Dewi saat ke sini melihat langsung kerusakannya. Ia langsung meminta Kepala Sekolah mendata barang yang rusak dan membuat laporan agar diletahui jelas oleh Pemprov Jabar, sehingga proses perbaikan atau penggantian pun segera terlaksana,” terang dia.

Pihak sekolah harus mulai melakukan recovery akibat kerusakan yang ditimbulkan.

Dari hasil pendataan tersebut, diketahui kerugian sekolah sebesar Rp2 miliar. “Padahal semua fasilitas dan barang yang rusak itu dibeli dengan dicicil selama beberapa tahun. Tapi, ya, kalau alam sudah berkehendak mau bagaimana lagi,” imbuh Madasar.

Ia berharap, baik kepada Pemerintah Pusat, Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Bekasi agar memberikan perhatian khusus atas kondisi SMAN I Cibitung. “Saya juga berharap uluran tangan para pelaku bisnis yang ada di Kabupaten Bekasi turut berpartisipasi mendukung program sekolah yang lebih baik kedepan,” pungkas Madasar. (TS)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*