Geliat Kelompok Usaha Pengolahan Ikan: Semakin Bergairah Setelah Mendapat Binaan Dinas Perikanan & Kelautan

Babelan (Bintang Save) – Ikan bandeng termasuk jenis ikan yang banyak memiliki penggemar di Indonesia. Maklum, rasa dagingnya begitu gurih nan empuk. Bandeng juga menjadi favorit para ibu-ibu di dapur bahkan para koki, mengingat teksturnya yang tidak mudah hancur saat dimasak. Kemasyhuran ikan yang bernama internasional milk fish itu juga sangat terasa di Kabupaten Bekasi.

Melimpahnya bandeng di pasar yang dipasok dari sentra-sentra pembudidayaan seperti di Muaragembong, membuat masyarakat juga tak kesulitan mendapatkannya. Tak ayal, jika di kabupaten berjuluk “kota industri” itu, bernama latin chanos chanos ini sudah menjadi salah satu komoditi unggulan dengan pangsa pasar yang menggiurkan.

Pangsa pasar yang besar ini rupanya membuka celah-celah usaha baru untuk dikembangkan. Jika biasanya bandeng diolah menjadi berbagai olahan kuliner, seperti dipindang sampai dibikin gulai ikan atau sekadar digoreng saja, kini banyak pengusaha yang justru mengolah bandeng menjadi produk bernilai tambah. Tak percaya? Tengok saja H. Ahmad Sodikin, SE., warga Kecamatan Babelan yang sehari-harinya berprofesi sebagai guru ini sukses membuat produk olahan berbahan baku ikan bandeng menjadi ladang usaha potensial penambah pundi-pundi tabungan.

Di bawah kelompok usaha Bekasi Presto yang dibangunnya bersama sang istri pada tahun 2004 lalu, Sodikin berhasil memasok berbagai produk olahan ikan bandeng kemasan ke sejumlah pasar tradisional, seperti produk bandeng presto, otak-otak bandeng, pindang bandeng, sosis, dan lain-lain dengan kapasitas produksi antara 2-3 kilo gram per hari. “Kalau sedang banyak orderan malah bisa naik drastis sampai 500 kilo (gram) per harinya,” ucap Sodikin.

Sama halnya dengan pengusaha pada umumnya, kesuksesan pria asal Malang ini pun tak jatuh dari langit. Aral kerap kali merintangi jalannya menuju tangga kesuksesan. “Awalnya kelompok usaha kami bernama Wanita Produktif dengan jumlah anggota mencapai 25 unit usaha,” kata dia, Jumat (9/11).

Sebagai langkah pertama, Sodikin memasarkan produk bandeng presto dengan sistem titp jual ke hampir 20 gerobak tukang sayur. “Pagi saya kasih barangnya, sore bayar. Saya cegat tukang sayurnya,” kenang Sodikin sambil terkekeh.

Rupanya, Sodikin menyadari bahwa pengawali sebuah usaha tidak semudah melipat uang dalam dompet. Cara berjualan yang diterapkan itu justru membuat ia pontang panting untuk mempertahankan usahanya karena terkendala modal. “Banyak tukang sayur yang gak bayar. Saya jadi kesulitan memutar uang untuk produksi lagi,” ungkapnya.

Alhasil, tren penjualannya pun menurun drastis sejak tahun 2008. Jumlah pedagang sayur yang menjadi mitranya pun dikurangi. Tahun 2009 Sodikin mulai melakukan diversifikasi produk. Ia mulai mengurangi produksi bandeng presto dan lebih fokus dengan pindang bandeng. Persentasi produksinya, 80% pindang bandeng dan 20%-nya lagi untuk bandeng presto.

“Kalau presto itu harganya lebih mahal karena pengolahannya juga khusus. Misal, harus pakai panci presto supaya tulangnya lunak. Dengan harga Rp10 ribu itu tidak cocok dengan pasar ibu-ibu rumah tangga. Mereka (ibu-ibu rumah tangga) lebih memilih pindang yang harganya hanya Rp6000,” jelasnya.

Kini, usaha Sodikin sudah cukup stabil. Ia rutin mengirimkan produknya ke kantung-kantung pemasaran, seperti pasar tradisional, warung-warung nasi, dan tentunya ke tukang sayur. Diakuinya, bahwa peningkatan pesat pada bisnisnya itu tak terlepas dari sentuhan Dinas Perikanan dan Kelautan Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Dinas, sebutnya, secara rutin melakukan pembinaan, pelatihan teknis dan fasilitasi terhadap usahanya. Mulai dari pembekalan menajemen keuangan, pemasaran, pemberian bantuan alat, pengikutsertaan dalam pameran hingga mengadakan pertemuan rutin setiap bulan. “Dinas (Perikanan dan Kelautan, Pemkab Bekasi) sudah sangat bagus. Mereka juga cukup intens menjalin komunikasi dengan kami para pelaku usaha pengolahan ikan di Bekasi,” ujarnya.

Hal itu, diamini oleh Kabid Penguatan Daya Saing, Ir. Ridwan Mulyana. Menurutnya, pembinaan yang dilakukan, secara teknis, salah satunya melalui kerjasama dengan balai besar pengolahan hasil perikanan sebagai pengajar.

“Sebagai simpul pemasarannya, selain fasilitasi melalui pameran dan bazar setiap tahun, kami juga mengundang pihak perhotelan. Produk-produk pelaku usaha juga kita kirim ke laboratorium untuk diuji kelayakan supaya bisa masuk ke ritel modern,” terangnya.

Sementara itu, berkenaan dengan konsistensi pembinaan, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Ir. H. Wahyudi Amar memastikan bahwa upaya pembinaan, pelatihan, dan fasilitasi terhadap pelaku usaha selama ini bakal terus dilakukan. Saat ini saja, kata dia, ada sekitar 88 unit/kelompok usaha yang berada di bawah naungan Dinas Perikanan dan Kelautan Pemkab Bekasi.

“Harapan kedepannya supaya kelompok usaha ini bisa terus tumbuh. Supaya pasarnya bisa kemana-mana. Misalnya menyasar pasar online,” paparnya.

“Dengan demikian, keberadaan Dinas Perikanan dan Kelautan ini terasa manfaatnya oleh masyarakat,” lanjut Wahyudi.

Sebelum menutup perbincangan, Sodikin pun mengungkapkan harapannya. “Kedepan, saya ingin makanan olahan dari ikan bandeng ini bisa menjadi produk khas Bekasi, disuguhkan setiap kali ada acara-acara resmi di kantor Pemkab. Yang tidak kalah pentingnya, pengusaha baru yang bergerak di bidang pengolahan ikan seperti ini harus terus muncul,” pungkas Sodikin penuh harap. (ADV)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*