Kontribusi Konkret PT. United Tractors Pandu Engineering dalam Mencetak Siswa yang Siap Kerja dan Mandiri

Cikarang Barat (Bintang Save) – Jumat, (20/7) lalu, SMK Negeri 1 Cikarang Barat kedatangan tamu istimewa. Ia adalah Hilman Risan, Presiden Direktur PT United Tractors Pandu Engineering. Hilman datang tak sendiri. Dia membawa serta beberapa peralatan welding yang disumbangkan kepada pihak sekolah, lengkap dengan sejumlah teknisi untuk sekaligus memberikan pelatihan kepada para siswa.

“Langkah ini merupakan bagian dari upaya kami dalam mencetak generasi muda yang siap kerja,” kata Hilman siang itu.

“Kita ini saling membutuhkan,” lanjutnya penuh penegasan. Hilman menjelaskan, perusahaan saat ini butuh SDM yang sudah memiliki keterampilan untuk dapat bersaing di era globalisasi seperti sekarang. “Kami berharap, ke depannya dapat terjalin kerjasama yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Lulusan SMK diharapkan mampu menjawab kebutuhan SDM industri,” ungkap Hilman.

Hal ini, menurutnya, senafas dengan program-program yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat di bawah arahan Presiden Joko Widodo, yang sangat berharap lulusan SMK itu jangan hanya menjadi penambah angka pengangguran. “SMK justru sebagai sekolah pencetak siswa yang siap kerja dan mandiri,” tandasnya tanpa ragu.

Keputusan perusahaan yang berdiri sejak 1983 ini memilih SMK Negeri 1 Cikarang Barat cukup tepat. Pasalnya, dari sisi geografisnya, sekolah dengan luas lahan mencapai 7,6 hektar ini berada di tengah kota dan berdekatan dengan banyak perusahaan-perusahaan besar di wilayah Kecamatan Cikarang Barat.

Tak ayal, Kepala SMK Negeri 1 Cikarang Barat Drs. Bambang Nurcahyo, pun memuji langkah perusahaan dengan brand produknya bernama Patria ini. Menurut Bambang, selama 7 tahun ia menjabat sebagai kepala sekolah, baru sekali ini ada perusahaan yang datang langsung dan bahkan secara konkret memberikan kontribusi signifikan kepada sekolah. “Sebelumnya, banyak perusahaan yang saya kunjungi untuk melihat potensi kerjasama pengembangan pendidikan di sekolah,” ucap pria yang pernah menjabat Kepala Sekolah di SMK Negeri 1 Pebayuran ini.

Bambang bangga bukan main. Ia mengapresiasi PT. United Tractors Pandu Engineering yang tidak hanya menyumbangkan peralatan industri, tetapi juga membangun ruang kerja yang representative untuk siswa. “Kalau sudah begini akan terjadi link and match antara SMK dengan industri,” imbuhnya kepada Bintang Save.

Hal senada juga disampaikan oleh Kasubag Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat di Wilayah III, DR. H. Matroji, M.Pd. Ia berpendapat, bahwa apa yang dilakukan PT. United Tractors Pandu Engineering bisa bermanfaat besar bagi SMK Negeri 1 Cikarang Barat. “Karena itu, harapannya agar sekolah yang lain pun ikut di perhatikan (oleh PT. United Tractors Pandu Engineering-red). Sebab, jujur saja, jumlah anggaran yang dimiliki oleh Provinsi Jawa Barat sangat minim. Adanya bantuan ini jelas dapat mengurangi beban Pemerintah Provinsi,” ujarnya.

Revitalisasi SMK

Hasil Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2018 mengemukakan isu strategis, yakni revitalisasi pendidikan vokasi dan pembangunan ekonomi nasional. Pendidikan vokasi kita masih rendah. Ririn Handayani dalam tulisannya yang dimuat Jawa Pos pada rubrik Perspektif, menyodorkan data menarik, “Dari total sistem pendidikan di Indonesia, baru 5,6% yang berbasis vokasi”. Padahal, pendidikan berbasis vokasi sangat penting agar setiap sekolah dapat melahirkan SDM yang mumpuni. Memiliki keahlian.

Fakta tersebut merupakan gambaran gunung es dari problematika mismatch antara dunia pendidikan dan dunia kerja yang kita hadapi, dan berlangsung selama bertahun-tahun. Situasi ini membuat pemerintah menggulirkan program pendidikan vokasi sebagai kebijakan solutif yang melibatkan banyak pihak, dan tidak hanya berlaku di jenjang perguruan tinggi namun juga pada level di bawahnya: Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Hal ini sudah barang tentu sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing SDM Indonesia.

Sayangnya, implementasi program pendidikan vokasi di SMK masih terganjal beberapa kendala. “Pertama, kurikulum pendidikan yang digunakan belum mengakomodir kebutuhan kompetensi di industri dan masih bersifat broadbased, sementara industri membutuhkan kompetensi yang lebih spesialis,” papar Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto sebagaimana dikutip dari Berita Satu.

Kedua, peralatan praktikum di SMK kurang memadai. Begitu pun teknologinya sangat tertinggal dari industri. Terakhir, jumlah guru bidang studi produktif juga masih sangat terbatas, yakni hanya 22% dari jumlah guru SMK. “Mereka pun masih kurang pengalaman dalam hal praktik di industri,” ucap Menperin.

Hal lain yang juga tak kalah penting adalah peran dari Pemerintah Daerah. Pendidikan vokasi yang terus digulirkan hendaknya disambut dengan inisiasi dari Pemda dalam berbagai bentuk guna mempercepat keberhasilan program ini. Sebab kita tak bisa terus-terusan menunggu perusahaan macam PT United Tractors Pandu Engineering yang datang sendiri menyorongkan bantuan. (TS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*