Jatah Dikurangi, Premium di Kios Eceran ‘Menguap’

Beltim, Bintang Save

Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium sulit diperoleh di tingkat pengecer di Kecamatan Manggar dan sekitarnya. Jikalau pun ada premium, pembeli langsung menyerbu dan stoknya ludes seketika.

Kelangkaan juga terjadi di dua SPBU di Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Tak sampai 2 jam, 8 kilo liter premium langsung habis. Bahkan, di SPBU Padang, yang stok premium dalam sehari sebesar 16 kilo liter juga tak bertahan hingga sore hari.

Kondisi ini disinyalir terjadi mulai dua minggu belakangan. Adanya pengurangan jatah premium di SPBU dan penggunaan premium oleh tambang inkonvensional (TI) dianggap jadi salah satu biang penyebabnya.

Penanggungjawab SPBU Padang, Jumhari mengakui adanya pengurangan jatah premium. Pengurangan cukup drastis, dari sebelumnya 120 kiloliter seminggu jadi hingga 72 kiloliter.

“Biasanya, kita pas Senin, Kamis dan Sabtu dapat 4 mobil (32 kilo liter). Sekarang berkurang jadi hanya Senin dan Sabtu, itu pun jatahnya tiga mobil (24 kiloliter). Kalau hari lainnya tetap dua mobil (16 kilo liter),” terang Jumhari kepada awak media, Rabu (31/1).

Pria yang biasa dipanggil Mandor itu menyatakan, bahwa kondisi tersebut bukan hanya terjadi di Kabupaten Beltim saja tetapi di seluruh Indonesia. Ia memperkirakan adanya upaya penghapusan, membuat Pertamina perlahan-lahan mulai mengurangi jatah premium.

“Kebijakan pemerintah ini mau menghilangkan premium. Makanya jatah premium kita dikurangi. Di Bangka sudah lama terjadi,” kata Mandor.

Selain itu, Mandor menuturkan, jika hilangnya pasokan premium di tingkat pengecer juga disebabkan karena banyak penambang TI beralih ke premium. Premium digunakan untuk mesin pompa robin TI.

“Yang menambang sekarang banyak pakai robin, belinya sering di eceran. Makanya solar kita tidak laku, sepi pembeli,” ungkap Mandor.

Berkurangnya stok premium, membuat konsumen beralih ke pertalite dan pertamax. Permintaan pertalite dan pertamax pun meningkat drastis, namun stok terjamin setiap saat. “Kalau pertalite sama pertamax aman. Berapa pun kita pesan barang selalu ada,” ujarnya.

Salah seorang pengecer premium di Kecamatan Manggar, Dilan (41), mengaku meski adanya pengurang stok dari pertamina di SPBU namun jatah harian untuk kiosnya masih tetap. Namun tak sampai malam dagangannya habis terjual.

“Sehari tetap dapat jatah 100 liter. Hanya karena ramai yang beli langsung habis,” ungkap Pria yang akrab dipanggil Bim-Bim tersebut.

Warga Desa Lalang Jaya itu mengatakan, dengan adanya kelangkaan premium, ia mengeluarkan aturan hanya melayani pelanggan yang menggunakan kendaraan. Jika ingin membeli menggunakan jerigen ia persilahkan ke SPBU.

“Kita utamakan pelanggan yang pakai motor. Hanya saja kita batasi jangan terlalu banyak belinya,” kata Bimbim.

Susahnya mendapatkan premium membuat Yanti (42) harus beralih ke pertalite. Kios langganan di dekat rumanya, sering kehabisan stok premium.

“Biasanya, kan, beli bensin (premium-red) cuma Rp 7.000/ liter, sekarang beli pertalite Rp 8.500/liter, ada yang jual Rp 9.000/liter malah. Beratlah pak, kalau susah bensin gini,” ujarnya.

Wanita yang berprofesi sebagai pedagang kue keliling itu mengungkapkan, jumlah keuntungan yang diterimanya pun berkurang. Selisih harga pertalite dengan premium dari Rp 1.500 hingga Rp 2.000 membuatnya mengaku agak terbebani jika membeli pertalite.

“Biasanya tiap 3-4 hari sekali beli BBM, kan banyak mutar-mutar. Dulunya habis paling Rp 21 ribu, sekarang Rp 26 ribuan untuk tiga liter. Bayangkan kalau sebulan,” ungkapnya.

Pemerintah Kabupaten Tak Berwenang Urus BBM

Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah, Hendry Sarman menekankan Pemkab Beltim tidak lagi memiliki kewenangan untuk mengurusi BBM. Meski di tengah-tengah masyarakat terjadi kelangkaan, Pemkab Beltim hanya bisa sebatas memantau dan memberikan laporan.

“Kalau kondisi ini kita sudah tahu. Kita sudah informasikan ke Provinsi dan Kementerian ESDM terkait adanya pengurangan jatah premium,” kata Hendry kepada awak media, Rabu (31/1).

Kulok sapaan sehari-hari Hendry berharap agar Pemprov Kepulauan Bangka Belitung segera menyelesaikan masalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Energi di Kabupaten Beltim. Tujuannya agar urusan BBM yang menyangkut hajat hidup orang banyak dapat mudah tertangani. “Susah memang mau koordinasi apalagi kita tidak satu pulau, kalau ada UPT jadi mudah. Masalah BBM memang cukup riskan dan kalau tidak ditanggulangi akan banyak efek,” ujar Kulok.

Untuk itu, ia menghimbau agar masyarakat yang sudah mampu secara ekonomi dapat membeli pertalite atau pertamax. Dengan begitu diharapkan kelangkaan premium tidak begitu berpengaruh bagi masyarakat luas.

“Kita harap orang yang mampu secara finansial dapat beralih ke pertalite atau pertamax. Mudah-mudahan secara perlahan adanya pengurangan jatah premium dapat teratasi,” tukasnya.

Saat ini harga premium di SPBU mencapai Rp 6.450 per liter. Untuk harga pertalite naik Rp 100 menjadi Rp 7.800, sedangkan untuk pertamax naik Rp 200 menjadi Rp 8.700. (Budi)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*