Perlunya Anggota Dewan Membangun Kebijakan yang Berbasis IESQ

Tangerang (Bintang Save) – Anggota  DPRD  Kabupaten Tangerang  melaksana-kan Kegiatan Whorkshop/Bimtek dengan Tema “Optimalisasi Peran DPRD dalam Membangun Kebijakan Berbasis Intelligence Emosional Spiritual Quotient” berlangusng tanggal 23 – 25 November 2017, di Hotel Puri Avia Puncak Bogor. Dibuka oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tangerang Nazil Fikri, S.Ag., dan ditutup oleh  Wakil Ketua DPRD Barhum HS, IP. Kegiatan Whorshop ini  dilaksankan oleh Lembaga Pengabdian Kepada masyarakat Universitas Pasundan Bandung bekerjasama dengan DPRD Kabupaten Tangerang.

Maksud dan tujuan Whorshop ini adalah dalam rangka menambah wawasan dan pengetahuan bagi Anggota DPRD Kabupaten Tangerang  mengenai “Peran DPRD Membangun Kebijakan Berbasis Intelligence Emosional Spiritual Quotient” dalam melakasanakan tugas dan fungsi DPRD. Adapun Whorkshop dihadiri para narasumber antara lain Mustafa Kamal dari Kementerian Keuangan, yang menyampaikan materi tentang “Membangun Tata Pemerintahan yang baik melalui pencegahan Korupsi dalam pengelolaan APBD”.

Mustafa Kamal mengatakan Dalam membangun Tata Pemerintahan yang baik perlu memperhatikan diantaranya Pejabat pelaksana harus: 1. Akuntabulitas, yaitu kepercayaan, karena telah dipercaya maka kepercayaan itu harus dipegang benar sebagai tanggung jawab dari orang yang diberi amanah/yang diamanahkan kepada yang memberi amanah; 2. Transparan, terkait pengelolaan keuangan daerah (keterbukaan informasi  keuangan daerah, informasi keuangan daerah harus mudah diakses oleh masyarakat melalui internet, media massa, situation room; 3. Pencegahan Korupsi: a). Jajaran perangkat daerah untuk melakukan pengelolaan keuangan daerah secara sehat dan akuntabel; b). Pengelolaan keuangan daerah sesuai kebutuhan dan prioritas dengan prisnsip kehati-hatian, efesien, efektifitas, transparansi, tertib administrasi dan taat azas.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, bahwa dalam membangun daerah para pelaksana SKPD, dan Masing-masing individu harus tertanam didalamnya ada keterbukaan hati dalam  bekerja. “Ikhlasnya individu akan menyampaikan apa adanya, bukan ada apanya. Ini adalah salah satu kunci pencegahan korupsi,” kata dia.

Sedangkan Ahmad Muchlis Yusuf, yang merupakan Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) menyampaikan tentang “Membangun Spiritual untuk Membangun Bangsa”. Sebagai anggota Dewan bagaimana menghadirkan Spiritual untuk membangun bangsa, apa yang dilakukan Dewan dalam memperjuangkan pembangunan yang dinginkan masyarakat, aspirasi masyarakat atau harapan masyarakat? “Jawabnya, adalah secara spiritual memang sangat diperlukan dalam membangun bangsa dan membangun sebagaimana yang dibutuhkan untuk kesejahteraan rakyat,” ucap dia.

Untuk itu diperlukan kaderisasi yang memang memakan waktu tidak sebentar. Contoh, seorang Pemimpin yang diangkat dari kader-kader yang tiba-tiba atau karbitan biasanya tidak bisa mengabil keputusan yang cepat/tepat. “Contoh Nabi Muhammad saja, yang menyiapkan Kader-kader seperti Abu Bakar, Syadina Umar, Usman dan Ali. Itu melalui proses dan hasilnya sama-sama kita telah ketahui; beliau-beliau pemimpin yang tangguh. Itu juga dipersiapkan memerlukan pengkaderan yang cukup lama. Itu salah satu contoh dan hasilnya kita bisa lihat dalam sejarah Islam dan perjuangan Islam,” jelas Muchlis.

Sedangkan kalau pengkaderan dadakan biasanya banyak tergoda dengan yang bukan haknya mereka lakukan, sehingga banyak pejabat daerah yang masuk bui,  masuk ke suka miskin. itu contoh yang terjadi di lapangan. “Kita sebagai anak bangsa Indonesa, sebagai aparatur negara, sebagai amanah rakyat/perwakilan rakyat jangan lupa atas jasa-jasa bangsa kita yang lalu. Kita perlu belajar dari sejarah untuk menata masa depan yang baik,” imbuh dia.

“Reformasi, adalah untuk meninggalkan hal –hal yang tidak baik untuk menuju lebih baik. Mengoreksi hal-hal yang telah kebablasan, untuk menuju kebaikan. Sekarang saatnya para anggota DPRD sebagai utusan masyarakat dapat mengkaderkan calon terbaik untuk memimpin negara ini, termasuk kader-kader pemimpin di daerah,” lanjutnya.

Menurut analisa politik dunia, Indonesia diperkirakan Tahun 2030 akan menjadi negera besar ke-5 di dunia, karena Indonesia memiliki segalanya. “Indonesia punya daerah yang subur, Indonesia punya lautan yang kaya sumber energi yang bisa dikelola laut menjadi sumber energi. Di laut banyak sumber engergi, sumber pangan, dan sekarang bagaimana bangsa Indonesia, generasi muda penerus bangsa sanggup atau tidak untuk mengelolanya. Sebagai Anggota DPRD, sebagai utusan masyarakat, apa yang kita wariskan kepada anak-anak dan cucu kita untuk memimpin Banten—Demografi. Siapkah kita menghadirkan kejujuran di keluarga kita?” paparnya.

“Anak-anak kita juga dididik dengan perbuatan. Mereka bukan mendengar apa yang kita ucapkan,  tapi mereka akan melakukan apa yang diperbuat oleh kita. Reputasi itu lebih cepat dari pada manusianya. Perbuatan dilakukan dengan hati yang tulus untuk membangun bangsa,” sambung Muchlis.

Miqdad Husein, narasumber  dari Direktur Eksekutif Gerbang Informasi Pemerintahan (GIP), menjelaskan terkait Intelligence Emotional Spiritual Quotient (IESQ).

IQ : Kecerdasan Intelektual adalah suatu kemapuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional
EQ : Kecerdasan Emosi adalah kemampuan untuk mengelola perasaan yakni kemampuan untuk mempersep situasi, bertindak sesuai dengan persepsi tersebut, kemampuan untukberempati, dan lain-lain.
SQ : Kecerdasan Spiritual adalah kemampuan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada dibalik kenyataan. Kecerdasan Spiritual adalah untuk berbuat, berbuat untuk kebaikan. Kesadaran apa yang ada pada diri kita untuk kebaikan orang lain.

(rp)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*