Sekolah Model: Batu Pemijak Penting Menuju Peningkatan Mutu Pendidikan

(Bintang Save) – Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi bekerjasama melaksanakan kegiatan Ekspose Sekolah Model. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Guru/PGRI Kabupaten Bekasi, Sabtu (18/11) lalu, dan dibuka secara langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Drs. M.A. Supratman, M.Si.

Program Sekolah Model sendiri merujuk pada sekolah-sekolah yang ditetapkan dan dibina oleh LPMP untuk menjadi acuan bagi sekolah lain di sekitarnya, yakni dalam hal penerapan penjamin mutu pendidikan secara mandiri. Berdasarkan data yang diperoleh Bintang Save, LPMP Jawa Barat pada tahun 2017 ini menargetkan penerapan Sekolah Model di setiap Kota/Kabupaten yang terdiri dari 10 Sekolah Dasar, 4 Sekolah Menengah Pertama (SMP), 1 Sekolah Menengah Atas (SMA), dan 1 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Pada prosesnya, menurut Kepala Seksi Pengendalian Mutu, Asep Saputra, MM., Sekolah Model ini menerapkan seluruh siklus penjamin mutu pendidikan secara sistemik, holistik, dan berkelanjutan. “Sehingga budaya mutu akan tumbuh dan berkembang secara mandiri pada sekolah tersebut,” ucapnya.

Secara garis besar, ada tiga tujuan utama yang diusung dari pelaksanaan kegiatan ekspose Sekolah Model ini, antara lain : 1). Mensosialisasikan proses dan hasil kegiatan pelaksanaan SPMI di setiap Sekolah Model; 2). Memberikan gambaran umum mengenai kendala, solusi pelaksanaan SPMI di setiap Sekolah Model; dan 3). Menampilkan hasil/produk/dokumentasi terkait pelaksanaan program SPMI di setiap Sekolah Model.

Lebih jauh, Ir. Arief Alighani, M.Pd. yang mewakili Ketua LPMP Jawa Barat, Drs. Toto Santoso menjelaskan tiga poin penting dari diselenggarakannya kegiatan ini. Pertama, adalah peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah. Kedua, penerapan sistem penjamin mutu internal dan eksternal. Terakhir, yakni masih rendahnya capaian Standar Nasional Pendidikan (SNP).

SNP ini sendiri meliputi Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian Pendidikan, Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan,  dan Standar Pembiayaan.

“SNP dimaksudkan untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan standar nasional pendidikan yang berlaku, serta menciptakan budaya mutu pendidikan di satuan pendidikan,” kata Arief. “Tujuannya jelas, yakni melahirkan sekolah percontohan berbasis SNP melalui penerapan penjaminan mutu pendidikan secara mandiri,” lanjutnya.

Pola pengimbasan yang diterapkan menjamin mutu pendidikan kepada sekolah, hingga seluruh sekolah mampu menerapkan penjaminan mutu pendidikan secara mandiri pada tahun 2019. “Sekolah juga dapat meningkatkan mutu sesuai Standar Nasional Pendidikan, dan menjadi Sekolah berbudaya mutu,” imbuh Arief.

Dengan begitu, sebut Arief, penerapan sistem penjaminan mutu hanya ditunjukan untuk meningkatkan mutu sesuai SNP untuk mendorong terciptanya budaya mutu pendidikan, dimana semua komponen di sekolah memiliki jiwa pembelajar dan selalu mengembangkan diri sesuai dengan konteks perkembangan jaman.

Adapun sistem penjamin mutu pendidikan di sekolah dibagi menjadi lima tahap, yaitu : 1). Pemetaan Mutu; 2). Penyusunan rencana peningkatan mutu; 3). Implementasi rencana peningkatan mutu penerapan; 4). Evaluasi / Audit internal; dan 5). Penetapan standar mutu pendidikan.

Lantas, seperti apa wujud dari Sekolah Model ini? Puncak dari pendampingan program Sekolah Model ini adalah ekspose/pameran yang dilaksanakan mulai tingkat Kabupaten dan dilanjutkan ke tingkat pusat. Pada ekspose di tingkat Kota/Kabupaten, seluruh Sekolah Model harus menampilkan hasil/produk/ dokumentasi terkait pelaksanaan program SPMI di setiap Sekolah Model di tingkat Kabupaten/Kota.

Selanjutnya, para peserta dibekali dengan berbagai materi, seperti penulisan bestpractices, penulisan potret sekolah, dan penyusunan bahan publikasi seperti video, newsletter, stand ekspose. Berbagai hasil karya mereka nantinya akan dinilai oleh tim LPMP. Tak sampai di situ, dalam kegiatan ini anak-anak didik dari Sekolah Model juga memamerkan kebolehan mereka berpidato dengan beragam bahasa. Ada juga yang menyuguhkan seni beladiri dan bernyanyi.

Satu Sekolah Model pada jenjang SD, SMP, SMA, SMK yang dinilai terbaik akan dipilih untuk mendapatkan kesempatan mengikuti ekspose di tingkat provinsi mewakili Kota/Kabupaten masing-masing. Adapun fokus dari kegiatan ekspose Sekolah Model ini, yakni :

  1. Mensosialisasikan proses dan hasil kegiatan pelaksanaan SPMI di setiap Sekolah Model.
  2. Memberikan gambaran umum mengenai kendala, solusi pelaksanaan SPMI di setiap Sekolah Model.
  3. Menampilkan hasil/produk/dokumentasi terkait pelaksanaan program SPMI di setiap Sekolah Model.

Oleh karenanya, jelas Arief, seluruh Sekolah Model harus menampilkan hasil/produk/dokumentasi berupa Potret/profil Sekolah Model; Odner (map) yang berisikan dokumentasi kegiatan sekolah dalam pelaksanaan 5 siklus SPMI mencakup dokumen tertulis dan foto-foto kegiatan; Foto-foto kegiatan pelaksanaan SPMI di sekolah; Slide show kegiatan SPMI; Baner, pamplet, newsletter dan lain-lain.

“Yang perlu diketahui, bahwa SPMI itu adalah merupakan alat. Jadi, apabila paham menggunakan alat tersebut tentu mutu pendidikan akan tercipta dengan sendirinya,” kata Arief. Maka, melalui kegiatan Ekspose Sekolah Model ini, pemerintah tengah berupaya meningkatkan mutu pendidikan. “Mari kita bentuk kerjasama yang lebih baik,” jelasnya.

Dari segi teknis, Kepala SMPN 1 Pebayuran Sawat Suhendar, SPd. MA., mengatakan bahwa penjaringan peserta Sekolah Model SPMI dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi melalui verifikasi dan falidasi data LPMP Provinsi Jawa Barat bersama dengan sekolah lainnya, yaitu SMPN 1 Tambun Utara, SMPN 1 Babelan, dan SMPN 4 Cibitung.

“Diharapkan dalam 3 tahun ke depan akan ada perubahan ke arah yang lebih baik, dari segi mutu pendidikan, pelayanan, budaya tertib waktu, taat aturan dan disipilin, dan taat administrasi. Ini adalah hal-hal yang sederhana, dan dapat kita lakukan secara bertahap,” tukas Sawat.

Dari semua Sekolah Model yang ditunjuk terbukti berhasil memikat hati para pengunjung dengan produk yang dipamerkan di setiap stand, yang rata-rata merupakan produk olahan dari bahan tak bernilai menjadi berharga. Misalnya kalung, gelang, bingkai foto, dan pot bunga dan lain-lain. Semua produk itu bersumber dari bahan kertas sampah yang diolah menjadi barang-barang bernilai tinggi (value). (Adv)

 

Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi
Komplek Pemda Kabupaten Bekasi Gedung A2 Lantai ll, Cikarang Pusat, Kab. Bekasi, Jawa Barat.

Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Bekasi
Kantor Bupati Lt. 1 Perkantoran Pemkab Bekasi, Cikarang Pusat, Kab. Bekasi, Jawa Barat.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*