Potensi Dairi Menjadi Pemasok Bawang Merah Bagi Sumut

 

Dairi (Bintang Save) – Kabupaten Dairi berpotensi menjadi salah satu daerah penghasil bawang merah terbesar di negeri ini. Hal itu tercermin dari kondisi geografisnyayang memiliki arealpersawahan yang cukup luas, dan bisa dimanfaatkan untuk membudidayakan tanaman bawang merah dan bawang putih.

Berkaitan dengan itu, Kepala UPT Pembibitan Sitinjo, J. Sinambela mengatakan kondisi geografis kondisi lahan di Dairi, khususnya di Kecamatan Sidikalang, Kecamatan Sumbul Pegagan, dan Kecamatan Sitinjo sangat cocok untuk membudidayakan tanaman bawang merah.

“Apabila masyarakat ditiga kecamatan ini benar-benar mau menjadi petani bawang merah,Kabuapten Dairi  bisa menjadi lumbung bawang untuk wilayah Suamtera Utara,” ucapnya kepada Bintang Save, Sabtu (1/4).

Ia menambahkan, selama ini kebutuhan bawang merah Sumatera Utara selalu dipasok dariBrebes. “Kalau dibanding antara biaya untuk menanam bawang merahdengan penanaman palawija lainnya seperti cabe, jahe, dan sayur mayur, dapat dikatakan lebih irit (menanam bawang merah).Karena hama untuktanaman bawang merah tidak begitu banyak,” jelas J. Sinambela.

Ucapan J. Sinambela rupanya diamini juga oleh salah seorang petani bawang merah di Desa Silalahi III, Kecamatan Silalahi, yakni Jones Silalahi.Kata dia, lebih bagus menanam bawang merah dari pada tanaman palawija lainnya.

“Sebab harga pasaran bawang merah dapat dikategorikan normal. Sementara pergerakan harga cabe dan jenis tanaman palawija lainnya tidak dapat di prediksi,”ungkap Jones. Hal itu, lanjutnya, dikarenakan harga palawija selalu ditentukan oleh tengkulak.

Sementara itu, Saur Silalahi mengatakan, apabila Pemerintah Kabupaten Dairi mau mengembangkan pertanian bawang merah, maka untuk kebutuhan diSumatera Utara akan dapat dipenuhi olehKabupaten Dairi.

Potensi inilah yang kemudian mendorong berbagai pihak, terutama Kepala UPT Pembibitan Sitijo,J. Sinambela, mengajak masyarakat khususnya di Kecamatan Sumbu Pegagan, Kecamatan Sitinjo, dan Kecamatan Sidikalang yang notebene selama ini menjadi petani palawija untuk juga mulai membudidayakan tanaman bawang.

“Harga di pasaran selalu normal, dan dapat dengan mudah kita kalkulasikan modal awal dengan harga panennya.Tidak akan merugikan para petani,” tukasnya. (M. Purba)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*